Saturday, April 7, 2012

Contoh Bahan Mengajar: Pasangkan gambar!

Materi bisa didownload disini.

Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir


A. Pendahuluan
SPPKB merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan berfikir siswa. Joyce dan Weil (1980) menempatkan model pembelajaran ini ke dalam bagian model pembelajaran cognitive growth : Increasing the capacity to think (perkembangan kognitif : Penambahan kapasitas berpikir.

Dalam SPPKB siswa dibimbing untuk menemukan sendiri konsep yang harus dikuasai melalui proses dialogis yang terus menerus dengan memanfaatkan pengalaman siswa. Persamaannya dengan Strategi inkuiri, siswa menemukan materi pelajaran sendiri, perbedaanya pada SPPKB guru menggunakan pengalaman siswa sebagai titik tolak berpikirnya, sementara dalam Inkuiri jawaban dicari dari berbagai sumber.


B. Hakikat dan Pengertian Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir (SPPKB)
Model strategi pemabelajaran peningkatan kemampuan berpikir (SPPKB) adalah model pembelajaran yang bertumpu kepada pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui telaahan fakta-fakta atau pengalaman anak sebagai bahan untuk memecahkan masalah yang diajarkan.

Pengertian di atas mengandung beberapa hal :
1. SPPKB adalah model pembelajaran yang bertumpu kepada pengembangan kemampuan berpikir, artinya siswa tidak hanya menguasai materi, akan tetapi bagaimana siswa dapat mengembangkan gagasan-gagasan dan ide-ide melalui kemampuan berbahasa secara verbal. Hal ini didasarkan kepada asumsi bahwa kemampuan berbicara secara verbal merupakan salah satu kemampuan berpikir
2. Telaahan fakta-fakta sosial atau pengalaman sosial merupakan dasar pengembangan kemampuan berpikir, artinya gagasan dan ide-ide didasarkan kepada pengalaman sosial anak dalam kehidupan sehari-hari dan atau berdasarkan kepada kemampuan anak untuk mendeskripsikan hasil pengamatan mereka terhadap berbagai fakta dan data yang mereka peroleh dalam kehidupan sehari-hari
3. Sasaran akhir SPPKB adalah kemampuan anak untuk memecahkan masalah-masalah sosial sesuai dengan tarap perkembangan anak.

C. Latar Belakang Filosofis dan Psikologis SPPKB

1. Latar belakang filosofis
Pembelajaran adalah proses interaksi, baik antara manusia dengan manusia maupun manusia dengan lingkungan. Interaksi ini ditujukan untuk perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor. Pengembangan afektif erat kaitannya dengan meningkatkan aspek pengetahuan, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Timbul pertanyaan apakah pengetahuan itu ? Bagaimana memperolehnya ?
a) Aliran Rasionalisme mangatakan bahwa pengetahuan menunjuk kepada objek dan kebenaran itu merupakan akibat dari deduksi logis (mengambil keputusan yang khusus berdasarkan kepada kaidah yang umum secara rasional)
b) Aliran Empirisme mengatakan bahwa pengetahuan berdasarkan kepada pengalaman dalam memahami objek. Aliran ini memandang bahwa semua kenyataan itu diketahui melalui indera dan kriteria kebenaran itu adalah kesesuaian dengan pengalaman.
c) Konstruktivisme, mengatakan bahwa pengetahuan itu bukan hanya terbentuk dari objek semata, tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek dalam menangkap setiap objek yang diamati. Dengan demikian pengetahuan terbentuk oleh 2 faktor penting yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretasi objek tersebut.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan diperoleh bukan sebagai hasil tranfer dari orang lain, tetapi pengetahuan diperoleh melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena dan lingkungan yang ada. Oleh karena itu model pembelajaran berpikir menakankan kepada aktivitas siswa untuk mencari pemahaman akan objek, menganalisis dan mengkonstruksinya sehingga terbentuk pengetahuan baru dalam individu.

2. Latar belakang psikologis
Belajar merupakan peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral. Sebagai gerakan mental perilaku manusia tidak hanya gerakan fisik, tetapi yang lebih penting adalah adanya faktor pendorong yang menggerakan fisik itu, yaitu kebutuhan.
Dalam prespektif psikologni kognitif, belajar adalah proses aktif individu dalam membangun pengetahuan dan pencapaian tujuan. Proses belajar tidak tergantung kepada pengaruh dari luar, tetapi sangat tergantung kepada individu yang belajar. Dengan demikian tingkah laku manusia merupakan ekspresi yang dapat diamati sebagai akibat dari eksistensi internal yang pada hakikatnya bersifat pribadi.


D. Hakikat Kemampuan Berfikir dalam SPPKB
Menurut Peter Reason (1981) berpikir (thingking) adalah proses mental seseorang yang lebih dari sekedar mengingat (remembering) dan memahami (comprehending). Menurutnya, mengingat dan memahami lebih bersifat pasif daripada berpikir. Mengingat pada dasarnya hanya melibatkan usaha penyimpanan sesuatu yang telah dialami untuk suatu saat dikeluarkan kembali atas permintaan, sedang memahami memerlukan pemerolehan apa yang didengar dan dibaca serta melihat keterkaitan antar aspek dalam memori. Adapun berpikir menyebabkan seseorang harus bergerak hingga di luar informasi yang didengarnya.
Kemampuan berpikir memerlukan kemampuan mengingat dan memahami. Dengan demikian kemampuan berpikir pasti diikuti oleh kemampuan mengingat dan memahami, tetapi belum tentu orang yang memiliki kemampuan mengingat dan memahami memiliki kemampuan untuk berpikir.
SPPKB merupakan bukan hanya model pembelajaran yang mengarahkan peserta didik agar dapat mengingat dan memahami berbagai data, fakta atau konsep, akan tetapi bagaimana data, fakta atau konsep tersebut dapat dijadikan sebagai alat untuk melatih kemampuan berpikir siswa dalam mengahadapi dan memecahkan suatu persoalan.


E. Karakteristik SPPKB
SPPKB menekankan kepada tiga karakter utama, yaitu :
1. Proses pembelajaran melalui SPPKB menekankan kepada proses mental siswa secara maksimal. Artinya kegiatan belajar itu bukan hanya disebabkan oleh adanya stimulus dan respon saja, tetapi juga disebabkan oleh dorongan mental yang diatur oleh otak.
2. SPPKB dibangun dalam nuansa dialogis dan proses tanya jawab secara terus menerus untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri.
3. SPPKB merupakan model pembelajaran yang menyandarkan kepada dua sisi yang sama penting yaitu sisi proses dan sisi hasil belajar. Sisi proses diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir, sisi hasil belajar diarahkan untuk mengkonstruksi pengetahuan dan penguasaan materi pembelajaran baru.

F. Perbedaan SPPKB dengan Pembelajaran Konvensional
1. Strategi Pembelajaran Konvensional
a. Peserta didik sebagai objek belajar.
b. Pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak.
c. Perilaku dibangun atas proses kebiasaan.
d. Kemampuan didasarkan atas latihan-latihan
e. Tujuan akhir adalah penguasaan materi pembelajaran.
f. Perilaku dilakukan karena faktor pendorong dari luar (mis. Karena takut dihukum dll).
g. Pengetahuan bersifat absolut dan final, karena pengetahuan dikonstruksi oleh orang lain.
h. Keberhasilan siswa diukur hanya melalui test.
2. Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB)
a. Peserta didik sebagai subjek belajar.
b. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata (pengalaman siswa).
c. Perilaku dibangun atas kesadaran diri.
d. Kemampuan didasarkan atas penggalian pengalaman.
e. Tujuan akhir adalah kemampuan berpikir dengan menghubungkan pengalaman dengan kenyataan.
f. Perilaku dilakukan karena faktor pendorong dari dalam (mis. karena bermanfaat dll).
g. Pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai pengalaman yang dialaminya.
h. Keberhasilan siswa diukur dari proses dan hasil belajar.



G. Tahapan Pembelajaran SPPKB
Ada 6 tahap pembelajaran SPPKB, yaitu :
1. Tahap Orientasi
Tahap ini dilakukan dengan (1) penjelasan tujuan yang harus dicapai, baik tujuan yang berhubungan dengan penguasaan materi maupun proses pembelajaran, (2) penjelasan proses pembelajaran yang harus dilkukan oleh siswa.
2. Tahap Pelacakan
Tahap ini merupakan tahap penjajakan untuk memahami sejauh mana pengalaman dan kemampuan dasar siswa yang sesuai dengan tema atau pokok persoalan yang dibicarakan. Tahap ini dilakukan secara dialogis dan menjadi pijakan dalam pengembangan dialog dan tanya jawab pada tahap selanjutnya.
3. Tahap Konfrontasi
Tahap ini merupakan tahap penyajian persoalan yang harus dipecahkan sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa. Pada tahap ini guru harus dapat mengembangkan dialog agar siswa benar-benar memahami persoalan yang harus dipecahkan. Hal ini penting, karena pemahaman terhadap masalah akan mendorong siswa untuk berpikir.
4. Tahap Inkuiri
Pada tahap ini siswa diajak untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya. Oleh karena itu guru harus memberikan ruang dan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan gagasan dalam upaya pemecahan pesoalan.
5. Tahap Akomodasi
Tahap ini merupakan tahap pembentukan pengetahuan baru melalui proses penyimpulan. Pada tahap ini melalui dialog, guru membimbing siswa agar dapat menyimpulkan apa yang mereka temukan dan mereka pahami sekitar topik yang dipermasalahkan.
6. Tahap Transfer
Tahap ini merupakan tahap penyajian masalah baru yang sepadan dengan masalah yang disajikan. Pada tahap ini guru dapat memberikan tugas-tugas yang sesuai dengan topik pembahsan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran SPPKB, yaitu :
1. SPPKB adalah model pembelajaran yang bersifat demokratis.
2. SPPKB dibangun dalam suasana tanya jawab.
3. SPPKB merupakan model pembelajaran yang dikembangkan dalam suasana dialogis.


Referensi : Dr. Wina Sanjaya, M.Pd., 2007, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Contoh Hewan Buas & Ternak: IND-ARAB-ENG


Berisi 9 contoh gambar dan terjemahan bahasa inggris dan arab.  Download materi disini.

Mengelola Konflik dalam Ajaran Agama Islam


Pendahuluan

Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Tidak ada bayi yang terlahir bercita-cita buruk. Seorang anak pada dasarnya berperilaku baik, dan bila anak-anak kita melakukan hal yang buruk, berbohong, salah, bukankah itu dibentuk oleh orang tua? Mengapa sebagian anak2 ini yang ketika lahir begitu lucu dan menggemaskan beranjak dewasa dan menjadi beban bagi orang tua? Mengapa? karena sebagian anak dijatuhkan harga dirinya di rumah, bukan di luar rumah. Mungkin sebagian kita pernah membentak, memukul, menamparnya. Atau mungkin sebagian kita tidak pernah melakukan hal-hal tersebut, namun jarang sekali ada anak yang lolos dari disalahkan oleh orangtuanya. Judulnya agar dia menjadi anak yang pintar, anak yang berprestasi, tapi kapan kita mendengarkan anak kita? Ketika sang kakak mengambil mainan adik, kita berkata “kakak! ngalah dong sama adik”. Dalam hati sang kakak berkata, “kapan aku minta dilahirkan lebih dulu di dunia?”. Karena ketidakadilan di rumah, sebagian anak tidak betah berada di rumah, dan mereka mecari harga diri di luar rumah. Kalau teman-teman gengnya menghargainya, maka di situlah dia merasa nyaman, bukan di rumah. Bukan hanya uang, mainan, dan sekolah mahal yang penting, tapi penghargaan bagi seorang anak jauh lebih penting untuk masa depannya

Seringkali kesalahan dalam mendidik anak disebabkan oleh ketidaksiapan kita menjadi orangtua. Kita mungkin siap menikah, tapi apakah kita siap menjadi orangtua?
Sebenarnya mendidik anak tidak mudah, tapi juga tidak sulit. Asalkan kita memiliki sedikit saja bekal untuk itu. Misal seperti kita memiliki barang elektronik baru, dengan membaca manualnya sedikit kita bisa menguasainya. Kesalahan mendidik anak disebabkan oleh ketidakpahaman kita, dan bukan salah sang anak. Misalnya pada kasus orangtua tidak suka anaknya berantem. Padahal anak berantem itu baik. Karena tidak ada anak yang tidak pernah berantem. Berantem itu hal yang dilalui oleh semua orang, semua anak
seperti sudah diset oleh Allah. Berantem adalah sarana anak mengelola konflik di masa depan. Ketika beranjak dewasa tidak ada satu orang pun yang bebas dari konflik dalam kehidupan. Masalahnya, berantem menjadi tidak produktif kalau orangtua yang selalu menyebabkan masalahnya, atau memperburuk masalah tersebut.

Contoh, anak rebutan makanan atau mainan. Apa yang umumnya dilakukan orangtua?
Biasanya orangtua akan berkata “gantian ya” kalau untuk mainan. atau kalau untuk makanan “dibagi dua ya biar adil”. Yang memberi solusi selalu orang tua. Harusnya anak2 dilatih untuk menyelesaikan masalah, kadang kita harus membiarkan, tapi kadang butuh juga intervensi. Orangtua seharusnya menjadi moderator. Kalau kita selalu memberikan solusi, anak akan selalu bergantung pada orang tuanya, akhirnya orangtua juga yang capek. Berantem itu wajar, daripada dihentikan, lebih baik dikelola menjadi hal positif
Contoh lain, orangtua menambah masalah. Ketika sang adik merebut mainan kakak, kakak memukul adik. Apa yang biasanya dilakukan orangtua? Biasanya kita berkata “jangan pukul adik!”

Bagaimana kita bersikap kepada anak biasanya dipengaruhi oleh bagaimana kita diperlakukan sebagai anak dahulu. Sedangkan kita sudah menjadi seorang anak selama berpuluh-puluh tahun dan itu sulit untuk kita ubah. Jadi orang tua bukan berarti tidak boleh marah pada anak. Kalau kita kecewa atau sedih, atau marah itu wajar. Yang tidak boleh adalah menyakiti anak. Kita harus belajar cara marah yang tidak menyakiti anak, dan bukan marah – amarah yang tidak dikelola. Haram hukumnya anda menyentuh tubuh anak anda (memukul, menampar). Rasul hanya pernah memukul anaknya dengan syarat berhubungan dengan perintah shalat dan syarat berikutnya adalah sang anak sudah berumur 10 tahun. Itupun, sudah dengan pelatihan selama 3 tahun sejak umur 7. Kita boleh marah, boleh kecewa, tapi jangan sakiti dia

Kita semakin sulit mengendalikan anak karena kita menerapkan 2 pola kelakuan :

1. Terlalu lembut
Dengan alasan mengembangkan kreativitas, namun kadang kita terlalu membebaskan. Sering terlihat di kalangan ibu-ibu yang bekerja, merasa bersalah karena tidak sering menghabiskan waktu bersama anak, lalu membelikan anaknya apa saja.

2.Terlalu Mengekang
Dengan alasan melindungi dia dari lingkungan yang buruk, tapi seorang anak itu pada dasarnya tidak ada yang suka dikekang. Kita harus tahu batasan2 dalam membebaskan dan mengontrol anak.
Kalau seorang anak berantem, kita harus dengarkan omongannya, mengapa dia berantem, kenapa dia memukul. Dalam islam, membela diri itu dibenarkan
tapi kalau kita yang memukul duluan itu salah. Latihlah anak kita untuk fokus pada solusi, bukan pada masalah. Misal, ada yang memfitnah anak kita beritahu pada dia solusinya: bicaralah kalau kamu tidak suka difitnah.
Pertanyaan : apa pengaruhnya bila anak sering diancam? Misalnya bila tidak solat akan dipukul. Lalu apa pula pengaruhnya bila anak sering dipukul?
Jawab : Menghukum anak menjadi boleh ketika hukuman itu menjadi bagian dari konsekwensi. Ancaman tidak sama dengan konsekwensi. Konsekwensi itu terencana, ancaman itu spontan.  Kita bicarakan dan sepakati bersama dengan anak, konsekwensi apabila dia berbuat salah.
Kalau orangtua menyakiti anak, pengaruhnya adalah anak tidak akan percaya lagi pada orangtuanya, tidak bergairah untuk berbakti pada orangtuanya. Cobalah latih, mengancam yang merupakan bagian dari konsekwensi. Pilihlah ancaman yang memenuhi 2 hal : anda mampu/tega melakukannya, dan tidak menyakiti anak. Kalau anda tidak melaksanakannya, itu justru bahaya. Misal, anak minta permen di supermarket lalu menangis lalu kita ancam “kamu kalo nangis terus nanti mama tinggal di sini”.
Nah, beranikah kita benar-benar melakukan itu? Kalau tidak, maka jangan menyebutkan ancaman seperti itu. Lain kali kalau kita berkata dia tidak akan mempercayai omongan kita lagi.
Jangan juga terlalu berfokus pada ancaman. Misal, kalau kamu nggak solat nanti mama cubit! Tapi kita ganti dari sisi positifnya, kalau kita solat, hati jadi tenang.
Lalu, jangan menghukum anak dengan kebaikan. Misal, kalo anak telat masuk sekolah, dihukum suruh baca Qur’an. Niatnya baik, tapi Al Qur’an yang suci kemudian dijadikan hukuman, itu salah. Atau disuruh ngepel, nyapu. Bersih-bersih itu kebaikan, maka jangan dijadikan hukuman. Pilihlah hukuman yang merugikan sang anak. Misal : dikurangi jatah jajannya, dikurangi jatah main internetnya, dikurangi jatah nonton TVnya. Kalau kita jadikan Qur’an jadi hukuman, lama kelamaan dia akan membenci Al Qur’an.
Tidak semua keinginan anak itu harus dipenuhi. Bahkan, wajib kita tidak memenuhi sebagian keinginan anak. Ketika dia kecewa dan menangis, itu wajar.
Salah satu kesalahan mendasar kita dalam mengelola urusan manajemen konflik di sekolah adalah ketiadaan assessment yang komprehensif tentang kebiasaan dan perilaku siswa dan guru dalam berkomunikasi, serta lemahnya tingkat kemampuan guru dalam memahami makna kurikulum sehingga sering kali tak ada keterkaitan (alignment) antara kurikulum yang tertulis dan sistem evaluasi (tes) atas tindakan yang dilakukan siswa. Untuk itulah perlu diketahui setiap manajamen sekolah tentang prinsip-prinsip dasar pengembangan kurikulum pendidikan konflik yang didasarkan pada serangkaian kegiatan yang memungkinkan lembaga pendidikan merumuskan sendiri kelemahan dan kelebihannya (school mapping), menentukan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kapasitas guru dan kemampuan siswa {objectives and lesson design), memperbaiki sistem pengelolaan pembelajaran yang berkelanjutan dan efisien (scope and sequence), serta membuat rangkaian sistem monitoring dan evaluasi pembelajaran yang efektif-kompre-hensif (Jackson 1992).

Mengelola Konflik secara konmprehensif dengan dalil Al-Quran dan As-Sunnah
Diceritakan dalam Alquran (Al-Baqarah, 30),
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Suatu saat para malaikat pernah mempertanyakan niat Allah menciptakan manusia yang nantinya akan ditugasi sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Dalam perkiraan dan pandangan para malaikat, manusia adalah makhluk yang hanya akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah (man yusfidu fiiha wa yasfikuddima’). Karena itu, implisit dalam protes para malaikat, apa tidak sebaiknya niat itu diurungkan.
Untuk meyakinkan argumentasinya, para malaikat itu membandingkan dirinya bahwa mereka adalah makhluk yang senantiasa bertasbih kepada-Nya (wa nahnu nusabbihu bihamdika wanuqaddisulaka). Jadi, manusia di benak para malaikat tidak dibutuhkan.
Protes tersebut berakhir setelah Allah Swt memberi jawaban, protes mereka relevan karena Allah Mahatahu (inni a’lamu maa laa ta’lamuun). Para malaikat itu pun akhirnya bersujud dan mengakui superioritas Adam, karena Adam memiliki ilmu pengetahuan.
Ada banyak pelajaran yang didapat dari dialog antara Tuhan dan para malaikat di atas. Contohnya, salah satu potensi manusia adalah terlibat dalam konflik. Hal ini dibaca dengan jitu oleh para malaikat. Belakangan, pembacaan itu terbukti bahwa setelah manusia tercipta, selain mereka berbuat kebaikan, juga suka berbuat onar dan menumpahkan darah. Kita tahu bahwa pertumpahan darah biasanya merupakan refleksi dari konflik (yang tak terselesaikan). Jadi Alqur’an sejak awal sudah mengindikasikan, selain memiliki sifat baik, manusia juga punya sifat buruk.
Dipandang dari sisi ini, Alqur’an tampak konsisten bahwa Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, baik itu secara fisik atau kualitas. Secara fisik misalnya, selain menciptakan laki-laki, Allah juga menciptakan pasangannya yaitu perempuan. Demikian pula langit yang sering dipasangkan dengan bumi (samawat wal ardl). Secara kualitas, kita juga mengenal baik-buruk, benar-salah, halal-haram, dan sebagainya, termasuk rukun-konflik. Masing-masing kualitas itu tidak dapat berdiri sendiri tanpa pasangannya. Sama halnya jika laki-laki tidak dapat hidup sendiri tanpa perempuan, halal pun tidak akan ada jika tak ada haram. Demikian pula konflik tidak akan ada jika tidak ada rukun (harmoni). Dualitas itu bagaikan dua sisi pada mata uang yang sama. Jika yang satu ada di satu sisi, yang lainnya pasti ada di sisi lainnya. Kemunculannya adalah persoalan giliran, mana yang muncul lebih dahulu. Keberadaan salah satunya selalu dipengaruhi dan ditentukan oleh yang lainnya.
Dari narasi sederhana di atas, singkat kata, dualitas adalah sunnatullah. Kita tidak dapat menolak satu dan hanya menerima yang lainnya. Penolakan salah satunya merupakan penolakan terhadap sunnatullah, karena itu akan sia-sia. Kita tidak bisa menolak konflik, karena kita menerima harmoni. Atas dasar inilah, maka penerimaan terhadap konflik (sama persis penerimaan terhadap rukun/harmoni) bukanlah sebuah pilihan, tetapi keharusan.
Barang kali yang perlu kita lakukan bukanlah menolak konflik, tetapi bagaimana memperlakukannya supaya itu tidak muncul dalam bentuk negatif, seperti kekerasan dan bentuk-bentuk lain yang bersifat merusak. Bahkan sebaliknya, mengelola konflik dan mentransformasikannya menjadi sesuatu yang produktif. Misalnya melihat itu sebagai kekuatan untuk berubah ke arah yang lebih baik. Dengan adanya konflik, sering kali kita menjadi tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres, meski untuk mengetahui yang tidak beres tidak mesti melalui konflik.

Banyak studi yang menyatakan, konflik tidak hanya memiliki dampak negatif, tetapi juga positif terutama jika itu dikelola dengan baik. Misalnya konflik bisa menampakkan masalah menjadi lebih jelas, utamanya terhadap masalah yang dipendam atau tak diperhatikan sebelumnya. Konflik juga kerap kali mendorong munculnya ide-ide dan pendekatan baru. Inovasi dan perubahan juga sering tercipta setelah adanya konflik.
Persoalan yang kita hadapi adalah kita hanya melihat konflik dari sisi negatifnya saja. Akibatnya, kita tidak mampu mencari penyelesaian yang kreatif. Kita lebih sering lari dari, dan bersikap seolah-olah tidak ada konflik. Maka, ketika konflik muncul ke permukaan menjadi bersifat merusak.

Supaya manusia mampu mengelola konflik, maka Allah pun memberi petunjuknya. Petunjuk tersebut adalah agar manusia hidup dalam toleransi, tidak menang sendiri. Dalam teori hukum Islam, jika kebetulan masyarakat muslim menjadi mayoritas di sebuah wilayah, maka kelompok minoritas harus diberi perlindungan hukum (legal protection) sebagai jaminan pelaksanaan toleransi, selain sebagai jaminan pelaksanaan hak-hak dan kewajiban. Perlindungan hukum ini bersifat menyeluruh seperti hak-hak memperoleh maupun akses ke pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain, termasuk pemberian kebebasan untuk mengamalkan ajaran agamanya. Di dalam Alqur’an dinyatakan laa ikraaha fi al-diin (dalam hal agama, tidak boleh ada paksaan). Di dalam hukum Islam dibenarkan untuk mengambil tindakan hukum terhadap siapa saja yang memaksa-maksa orang lain dalam persoalan agama.

Dalam sebuah hadis, Nabi saw pernah mengingatkan kepada kaum muslim untuk tidak menyakiti zimmi (orang kafir yang berada dalam perlindungan hukum).

Beliau menyatakan, menyakiti mereka berarti menyakiti Rasulullah. Beliau sendiri menyatakan bahwa di hari akhir nanti akan menuntut orang-orang yang berbuat aniaya pada orang-orang yang mestinya secara hukum dilindungi.
Dari beberapa hadis di atas dapat diambil pelajaran bahwa dalam Islam, keadilan harus diletakkan di atas segalanya termasuk gender, etnis, maupun agama. Ini berarti dalam sebuah negara yang mayoritas penduduknya muslim, di depan hukum manusia diperlakukan secara sama. Muslim maupun nonmuslim dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sama. Diskriminasi, dengan demikian dilarang.
Selain toleransi Allah juga mengingatkan agar penyampaian agama dilakukan dengan cara sebijaksana mungkin, sehingga tidak menyinggung perasaan orang lain (QS An-Nahl : 125)
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
125. serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
[845] Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Ayat ini juga menegaskan apabila terpaksa harus menyampaikan bantahan, maka bantahan itu harus disampaikan dengan cara yang baik pula (ud ‘uu ila sabili li rabbika bi alkhikmati wal al mau ‘idlati al khasanati). Allah melarang mengejek Tuhan agama lain (QS Al-An’am: 108)

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
108. dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.
Kerja sama, berbuat baik, dan tolong menolong dengan penganut agama lain bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Alqur’an (QS Al-Mumtahanah : 8)
لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.
Dengan puasa ini, mari kita jadikan hari-hari kita untuk menahan diri. Kita tidak pernah benar sendiri. Apa yang kita anggap benar, mungkin tidak di hadapan Allah. Allah-lah yang mahatahu. Kita hanya meraba-raba. Terkadang rabaan kita benar, meski sering pula salah.
–  Penulis adalah direktur Program Pascasarjana IAIN Walisongo dan direktur Walisongo Mediation Centre. (20)

 Sumber : http://najhandika.wordpress.com/2011/01/25/profesi-kependidikan-mengelola-konflik/

Sukses dan Profesional sebagai Pendidik & Mentarbiyah dengan Cinta


MATA KULIAH PROFESI PENDIDIKAN


Sukses dan Profesional sebagai Pendidik
&
Mentarbiyah dengan Cinta


Maryani. M
Semester 3, S1 PAUD

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA



Sukses dan Profesional Sebagai Pendidik

Setiap calon pendidik perlu mengetahui rahasia untuk sukses sebagai pendidik. Sukses sendiri memiliki arti yang beragam tergantung pribadi masing-masing, akan tetapi sukses sebagai pendidik adalah bukan sekedar mampu menjalankan Program Kegiatan Belajar secara benar, tetapi justru mampu menciptakan keceriaan bagi anak-anak peserta didik saat belajar dengan aktivitas yang kita berikan yaitu belajar sambil bermain.
Berikut ini adalah panduan mengenai bagaimana agar kita dapat berhasil menjadi guru yang diimpikan oleh murid-muridnya.
I. Arti Pendidikan 
Menurut Wikipedia, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Menurut Dr. Seto Mulyadi atau yang akrab dipanggil Kak Seto, untuk menjadi guru yang baik, seyogyanya guru memahami pengertian pendidikan. Arti pendidikan sesuai dengan Undanga-undang Sisdiknas adalah sebuah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepridbadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Seorang pakar mengatakan bahwa, dunia anak adalah dunia bermain. Sehingga kita sebagai guru perlu juga memahami dunia anak-anak yang kita didik adalah dunia bermain. Ciri utama menurut Rubin, Fein dan Vandenverg dalam Hughes ada 5 ciri utama bermain yang dapat mengidentifikasikan kegiatan bermain sebagai berikut :
1. Dunia bermain dilakukan berdasarkan motivasi dirinya bukan karena orang lain atas dasar paksaan.
2. Permainan dipilih secara bebas oleh sang anak. Dalam sebuah penelitian disimpulkan bahwa suatu kegiatan bermain yang ditugaskan oleh seorang guru kepada murid-muridnya cenderung akan dilakukan anak sebagai suatu pekerjaan, bukan sebagai kegiatan bermain.
3. Bermain adalah suatu kegiatan yang menyenangkan. Anak merasa gembira dan bahagia melakukannya.
4. Bermain bisa juga dengan memanfaatkan fantasi atau imajinasi anak.
5. Bermain senantiasa melibatkan peran aktif anak baik fisik ataupun psikologis.
Bermain adalah salah satu cara untuk melatih anak konsentrasi karena anak akan mencapai kemampuan maksimal ketika terfokus pada kegiatan bermain dan bereksplorasi dengan mainan. Bermain juga dapat membentuk belajar yang efektif karena dapat memberikan rasa senang sehingga menimbulkan motivasi instrinsik anak untuk belajar. Motivasi instrinsik tersebut terlihat dari emosi positif anak yang ditunjukan melalui rasa ingin tahu yang besar terhadap kegiatan pembelajaran.

II. Memahami Anak
Sebagai seorang guru, hal lain yang tak kalah pentingnya untuk kita pahamai dalam mendidik anak adalah bahwa kita perlu lebih memahami psikologi anak.
Bukan orang dewasa mini
Anak-anak memiliki dunianya sendiri dan butuh kesabaran, pengertian dan toleransi yang mendalam agar mereka mengerti tentang apa yang kita ajarkan.
Dunia bermain
Dunia mereka adalah dunia bermain yang penuh dengan spontanitas dan menyenangkan. Seorang anak akan rajin belajar, mendengarkan keterangan guru atau melakukan pekerjaan rumahnya apabila susana belajar adalah suasana yang menyenangkan dan menumbuhkan tantangan.
Berkembang
Anak akan bertumbuh kembang baik fisik maupun psikologis. Dengan memahami perkembangan anak, maka kita akan tenang dalam menghadapi segala gejala perubahan perkembangannya.
Senang meniru
Anak-anak pada dasarnya senang meniru, untuk itu disekolah guru harus memberikan contoh-contoh yang baik seperti tersenyum, senang bernyanyi dan menghargai orang lain agar ditiru oleh anak didiknya.
Kreatif
Rasa ingin tahu yang besar, senang bertanya, imajinasi yang tinggi, tidak takut salah adalah contoh sifat anak kreatif. Guru perlu merangsang anak-anak tersebut agar mereka selalu kreatif.

III. Memahami Kecerdasan Anak
Seorang anak untuk dapat hidup sukses di masa depan membutuhkan disiplin, kerajinan dan ketekunan. Selain itu, untuk kesuksesan hidupnya, seorang anak juga membutuhkan kecerdasan sosial, pertemanan, serta kemampuan menempatkan diri dan kesuksesan ini tidak dapat diukur hanya dengan menjadi juara di kelasnya, karena menjadi juara kelas bukan jaminan dapat hidup sukses di masa depan. Jika seorang anak saat ini kelihatan biasa-biasa saja, boleh jadi ada kecerdasan tertentu pada diri anak tersebut yang masih terpendam.
Menurut Gardner, Profesor Psikologi di Harvard Graduate School of Education, setidaknya ada 8 kecerdasan yang tertanam pada diri anak-anak dan kedelapan kecerdasan itu tidak berdiri sendiri-sendiri, kedelapan kecerdasan itu membaur menjadi satu dan setiap anak memiliki kedelapan-delapannya sekaligus, meski yang menonjol mungkin hanya satu atau dua saja.
Kedelapan itu diantaranya sudah terpetakan oleh para pendidik disekolah, yakni kemampuan linguistik(word smart) dan kecerdasan logika-matematika(logic smart), namun selain itu masih ada 6 kecerdasan lainnya, yaitu musik(music smart), gerak tubuh(body smart), visual(picture smart), interpersonal(people smart) dan  intrapersonal(self smart) serta naturalistik(nature smart).

Menurut Howard Gardner via Kak Seto (2008:5) kecerdasan anak meliputi :
1.   Kecerdasan  matematika-logika
Anak-anak dengan kecerdasan matematika-logika tinggi cenderung menyenangi kegiatan menganalisis dan mempelajari sebab-akibat terjadinya sesuatu. Ia menyenangi berpikir secara konseptul, yaitu misalnya menyusun hipiosis, mengadakan kategorisasi dan klasifikasi terhadap apa yang dihadapinya. Anak-anak  semacam ini cenderung menyukai aktivitas berhitung dan memiliki kecepatan tinggi dalam menyelesaikan masalah matematika.
Apabila kurang memahami, maka mereka akan cenderung berusaha untuk bertanya dan mencari jawaban atas hal yang kurang dipahami tersebut. Anak-anak ini juga sangat menyukai berbagi permainan yang banyak melibatkan kegiatan berpikir aktif, seperti catur, bermain teka-teki, dan sebaginya.
2. Kecerdasan bahasa
Anak-anak dengan kecerdasan bahasa yang tinggi, umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan suatu bahasa seperti: membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata-kata mutiara, dan sebagainya. Anak-anak seperti ini juga cenderung memiliki daya ingat yang kuat misalnya terhadap nama-nama seseorang, istilah-istilah baru maupun hal-hal yang sifatnya detail. Mereka cenderung lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi. Dalam hal penguasaan suatu bahasa baru, anak-anak ini umumnya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak lainnya.
3.   Kecerdasan musikal
Anak-anak jenis ini cenderung senang sekali mendengarkan nada dan irama yang indah, apakah itu melalui senandung yang dilagukannya sendiri, mendengarkan kaset, radio, pertunjukkan orkestra, atau alat musik yang dimainkannya sendiri. Mereka juga lebih mudah mengingat sesuatu dan mengekspresikan gagasan-gagasan apabila dikaitkan dengan musik.
4.   Kecerdasan visual
Anak-anak ini memiliki kemampuan misalnya untuk menciptakan imajinasi bentuk dalam pikirannya, atau kemampuan untuk menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi seperti dijumpai pada orang dewasa yang mejadi pemahat patung atau arsitek suatu bangunan. Kemampuan membayangkan kecerdasan visual suatu bentuk nyata dan kemudian memecahkan berbagi masalah sehubungan dengan kemampuan ini adalah hal yang menonjol pada jenis kecerdasan visual-spasial ini. Anak-anak demikian ini akan unggul dalam permainan mencari jejak pada suatu kegiatan di kepramukaan misalnya.
5.   Kecerdasan kinestetik
Hal ini dapat dijumpai pada anak-anak yang unggul pada salah satu cabang olahraga, seperti misalnya: bulutangkis, sepakbola, tenis, berenang, dan sebagainya. Atau biasa pula tampil pada anak-anak yang pandai menari, tampil bermain akrobat atau unggul dalam bermain sulap.
6.   Kecerdasan inter-personal
Kecerdasan ini menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain, sehingga mudah dalam bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya. Kecerdasan ini sering disebut sebagai kecerdasan sosial, di mana selain seorang anak mampu menjalin persahabatan yang akrab dengan teman-temannya, juga termasuk kemampuan seperti memimpin, mengorganisasi, menangani perselisihan antarteman, memperoleh simpati dari anak-anak yang lain, dan sebagainya.
7.   Kecerdasan intra-personal
Kecerdasan ini menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Ia cenderung mampu untuk mengenali berbagai kekuatan maupun kelemahan yang ada pada dirinya sendiri. Anak-anak semacam ini senang melakukan introspeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya, kemudian mencoba untuk memperbaiki diri. Beberapa diantaranya cenderung menyukai kesunyian dan kesendirian, merenung dan berdialog dengan dirinya sendiri.
 8.   Kecerdasan naturalis
Kecerdasan ini menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam. Misalnya senang berada di lingkungan alam yang terbuka seperti pantai, gunung, cagar alam, hutan, dan sebagainya. Anak-anak dengan kecerdasan seperti ini cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, jenis-jenis lapisan tanah, aneka macam flora dan fauna, benda-benda di angkasa, dan sebagainya.
       Seorang guru tidak dapat mencap anak didiknya bodoh hanya karena mereka tidak dikaruniai bakat matematika atau kurang pandai bertutur bahasa, bukankah sebenarnya bahasa cuma masalah komunikasi dan matematika hanyalah alat berpikir saja.
Dari uraian di atas diharapkan para guru paham bahwa kecerdasan tidak hanya terbatas pada apa yang diukur oleh beberapa test intelegensi yang sempit saja, atau sekedar melihat prestasi yang ditampilkan seorang anak melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka. Dengan begitu guru dapat menggunakan metode yang tepat dalam kegiatan pembelajaran agar dapat mengembangkan kecerdasan dan potensi  dari peserta didik itu sendiri.


Source :
http://www.scribd.com/doc/52761961/Pendahuluan
http://www.hariansumutpos.com/arsip/?p=62483
http://mamboblora.wordpress.com/2010/11/05/memahami-kecerdasan-anak/
http://edukasi-enykusrini.blogspot.com/2010/12/memahami-kecerdasan-anak_21.html


Mentarbiyah dengan Cinta

DR. Maisarah Thahir berkata: mengajari anak dengan cinta menurut islam ada delapan:
Kosakata cinta, Pandang mata cinta, Suapan cinta, Sentuhan cinta, Selimut cinta, Pelukan cinta, Ciuman cinta, dan Senyum cinta.
Menurut saya sangatlah penting bagi kita mengamalkan tarbiyah dengan cinta kepada murid-murid disekolah. Karena untuk menjadi guru yang baik, perlu adanya sikap mengajar yang tulus dan ikhlas sehingga apa yang disampaikan kepada murid dapat menjadi manfaat dikehidupannya kelak. Sikap tulus ikhlas dapat ditunjukan dengan kosakata cinta saat menjelaskan, pandangan mata cinta juga dapat terpancar, dan sebagainya. Sikap ini bukanlah sikap yang sepenuhnya positif, karena perlu adanya ketegasan dalam mengajar apabila ada kesalahan dari anakmurid yang memang harus diberi tindak tegas. Tindakan tegas juga tidak perlu dengan sikap marah yang berlebihan tetapi bisa menggunakan sentuhan cinta dan pandangan cinta sehingga murid mengerti akan kesalahannya.
Tentunya artikel “Mentarbiyah dengan Cinta” ini berhubungan dengan Mata kuliah Profesi Pendidikan. Bagaimanapun juga peserta ajar adalah objek atas trasnfer ilmu dari subjek yang bernama pengajar. Pengajar harus mampu mentransformasikan nila-nilai etika lingkungan sehingga pengajar yang peka dapat mengajar dengan moral dan hati nurani.
Insyaallah saya sudah menjalankan tarbiyah dengan cinta kepada kedua anak saya tercinta sejak kecil karena saya ingin mereka menjadi pribadi yang juga halus lembut kepada teman-teman, guru dan saudaranya karena didikan dari keluarga yang penuh kasih sayang.


Source : http://www.al-ikhwan.net/2010/04/3528/mentarbiyah-dengan-cinta/

Strategi Pembelajaran


RANGKUMAN STRATEGI PEMBELAJARAN

Menciptakan Kegiatan Mengajar Yang Inovatif Dan Kreatif


MARYANI.M

SEMESTER 3 PAUD



UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA



PENDAHULUAN
Masalah pendidikan saat ini merupakan suatu hal yang sangat penting. Pendidikan nasioanl berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watk serta bangsa dan martabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan yang Maha Esa. Di dalam usaha untuk mencapai itu semua perlu adanya pendidik yang berkualitas sehingga dalam pola pembelajaran yang diajarkan. Dalam proses belajar mengajar, dibutuhkan seorang pendidiak yang berkualitas serta diharapkan dapat mengarahkan anak didik menjadi generasi yang diharapkan sesuai dengan tujuan dan cita-cita bangsa.  Buku ini dibuat oleh Yus Alvar Saabighoot, M.Pd. untuk membantu pemahaman mahasiswa terhadap strategi pembelajaran. Diharapkan mahasiswa mengerti dan mampu mengimplementasikannya kepada Pendidikan Anak Usia Dini.


LATAR BELAKANG
Keberadaan guru dan siswa merupakan dua faktor yang sangat penting di mana diantara keduanya saling berkaitan. Kegiatan belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kegiatan mengajar guru, karena dalam proses pembelajaran guru tetap mempunyai suatu peran yang penting dalam memberikan suatu ilmu kepada anak didiknya. Salah satu masalah yang dihadapi guru dalam menyelenggarakan pelajaran adalah bagaimana menimbulkan aktifitas dan keaktifan dalam diri siswa untuk dapat belajar secara efektif. Sebab, keberhasilan dalam suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh adanya aktifitas belajar siswa. Salah satu cara untuk menimbulkan aktifitas belajar siswa adalah dengan merubah kegiatan-kegiatan belajar yang monoton. Di samping itu, motivasi merupakan salah satu factor yang turut menentukan keefektifan proses balajar mengajar. Maka dari itu guru perlu mengetahui macam-macam strategi pembelajaran sehingga dapat menentukan strategi mana yang cocok dan tepat untuk anak didiknya untuk mencapai tujuan yang diinginkan.



PEMBAHASAN
BAB 1
STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
Standar Nasional Pendikan P.P. NO.19 Tahun 2005 merupakan pedoman atau patokan bagi pelaku pendidikan diwilayah NKRI, dari mulai tahapan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan melakukan evaluasi pendidikan dan juga menjadi acuan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan untuk mencapai pembelajaran yang kreatif & inovatif. Pada gambar 1.1 halaman 4 Tentang standar . PP.No.19 Tahun 2005 yang disusun oleh BSNP meliputi 8 komponen adalah sebagai berikut :
1. Standar Isi : yaitu mengenai materi (bahan ajar) & kurikulum
2. Standar Proses : mengenai planning (perencanaan), implementasi (pelaksanaan)
3. Standar Kompetensi Kelulusan : tujuannya demi kualifikasi yang mencakup kelulusan pengetahuan & keterampilan
4. Standar Pendidikan & Tenaga Kependidikan
5. Standar Sarana & Prasarana
6. Standar Pengelolaan
7. Standar Pembiayaan
8. Standar Penilaian Pendidikan
Dari susunan komponen tersebut diatas dapat kita simpulkan bahwa bagi seluruh elemen pendidikan baik lembaga pendidikan maupun oleh pendidik itu sendiri sebaiknya dapat menjalankan Standar Nasional Pendidikan bertaraf Nasional, yang menjadi dasar dan harapan serta tujuan dari cita-cita bangsa Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, demikianlah fungsi dari SNP tersebut.

BAB 2
SISTEM PROSES PEMBELAJARAN
Dalam sistem proses pembelajaran tentunya mempunyai berbagai macam komponen seperti perencanaan > pelaksanaan > penilaian, dimana hal tersebut, saling berkaitan yang bermanfaat untuk merancang suatu proses pembelajaran dan cara pikir untuk membantu daya ingan yang tujuannya untuk mencapai sistem proses pembelajaran.
A. Faktor-faktor yang berpengaruh pada sistem proses pembelajaran tentunya adalah :
1. Faktor Guru
2. Faktor Siswa
3. Faktor Sarana & Prasarana
4. Faktor Lingkungan
Faktor-faktor tersebut menjelaskan bahwa guru sebagai pioner dan siswa sebagai objek yang tadinya ga tahu menjadi tahu ditunjang sarana & prasarana secara langsung terhadap proses pembelajaran misalnya :
- Media
- Bahan ajar
- Strategi pembelajaran
- Model
Serta merta faktor lingkungan pun turut mendukung sistem proses pembelajaran, sehingga upaya sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran akan mendapat dukungan dari pihak lain.
B. Komponen Sistem Proses Pembelajaran
Pada proses KBM akan terjadi proses perubahan tingkah laku terdapat pada bagian 2.1 halaman 28
Input/penerimaan Proses KBM Output/hasil
- Perencanaan - Media - Lulusan
- Pendidikan - Materi - Kualitas anak didik
- Metode
- Kurikulum
- Kualitas PAUD

Untuk mencapai proses KBM yang maksimal sesuai dengan SNP tentunya ada berbagai faktor yang mempengaruhi proses hasil belajar yang terdapat pada bagan 2.3 halaman 30 dan juga bagan 2.4. Semua komponen tersebut pada bagan saling berkaitan untuk men capai tujuan sistem pembelajaran.


BAB 3
PERAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Proses pembelajaran merupakan suatu sistem untuk meningkatkan kualitas dari proses pembelajaran dapat dimulai dari menganilisis setiap komponen yang dapat membentuk dan mempengaruhi proses pembelajaran. Komponen yang sangat mempengaruhi dalam proses pembelajaran adalah Guru. Sebab guru adalah pioner atau ujung tombak yang berhubungan langsung dengan sistem sebagai subjek dan objek belajar.
A. Meningkatkan Profesionalisme Guru
1. Kompetensi Profesional Guru
Guru yang profesional adalah guru yang secara spesifik memiliki pekerjaan yang didasari oleh keahlian keguruan serta landasan kependidikan secara akademis memiliki pengetahuan teori-teori kependidikan & keterampilan untuk dapat mengimplementasikan teroi kependidikan tersebut.
Tugas Profesi guru : Merencanakan pembelajaran, melaksanakan dan menilai pembelajaran.
Klasifikasi keterampilan tugas profesi guru :
a. Keterampilan merencakan pembelajaran
b. Keterampilan melaksanakn pembelajaran
c. Keterampilan meniali pembelajaran
3 Komponen standar kompetensi guru sebagai berikut :
1. Kompetensi pengelolaan pembelajaran
2. Kompetensi pengembangan potensi
3. Kompetensi penguasaan akademik
B. Kedudukan Guru Dalam Pembelajaran
Peran guru sangat penting dalam proses pembelajaran. Guru merupakan faktor yang menentukan dalam memajukan kualitas pembelajaran yang merupakan inti proses pendidikan.
Peran guru berkaitan dengan kompetensi guru :
a. Guru melakukan diagnosis terhadap prilaku awal siswa
b. Guru membuat perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP)
c. Guru melaksanakan proses pembelajaran
d. Guru sebagai pelaksana administrasi sekolah
e. Guru sebagai komunikator
f. Guru mampu mengembangkan keterampilan diri


BAB 4
STRATEGI PEMBELAJARAN
Strategi pembelajaran dalam pendidikan memiliki 4 konsep dan implementasi strategi pembelajaran, yang dapat diterapkan pada dunia pendidikan guru profesional sebagai pengajar.
A. Konsep Strategi Pembelajaran
1. Istilah Strategi
Istilah strategi pada dunia pendidikan sangat perlu mempertimbangkan berbagai aspek untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Oleh karena itu untuk menunjukan proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang kontekstual. Tentunya dapat dimulai dengan istilah pada gambar 4.1
Strategi pembelajaran dan istilah yang terkait
- Pendekatan (approach) : menjelaskan cara, terhadap pendekatan yang dilakukan/digunakan oleh guru berorientasi pada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran
- Model : model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancangan bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran dikelas atau yang lain. Guru dapat memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan.
- Metode : metode pembelajaran cara yang digunakan guru, dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran
- Strategi : suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa dengan penjabaran pendidikan yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.
- Teknik : jalan, alat/media yang digunakan guru untuk mengarahkan kegiatan peserta didik kearah tujuan yang ingin dicapai
- Taktik : lebih berkaitan dengan gaya guru dalam mengajar
2. Istilah Pembelajaran
Pembelajaran pada harakatnya merupakan proses komunikasi transaksional yang bersifat timbal balik, baik antara guru dengan siswa atau siswa dengan siswa agar kegiatan belajar siswa dinamis dan inovatif. Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang tepat agar terjadi proses KBM yang diharapkan tentunya ada 2 hal perlu kita ketahui adalah
a. Konsep belajar
b. Konsep mengajar
3. Istilah Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih /digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
B. Klasifikasi Strategi Pembelajaran
Pengklasifikasian strategi pembelajaran sebagai berikut :
1. Strategi berdasarkan pengaturan guru dan siswa
2. Strategi berdasarkan jalannya pelajaran
3. Strategi berdasarkan pengolahan pesan oleh guru/siswa
4. Strategi berdasarkan media
5. Strategi berdasarkan proses pengolahan pesan
C. Komponen Strategi Pembelajaran
Ada 5 komponen strategi pembelajaran
1. Kegiatan pembelajaran pendahuluan
2. Penyampaian informasi
3. Partisipasi peserta didik
4. Tes
5. Kegiatan lanjutan
D. Kriteria Pemilihan Strategi Pembelajaran
Beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam memilih strategi pembelajaran menurut Mayer (1977:54) :
1. Berorientasi pada tujuan pembelajaran
2. Memilih teknik pembelajaran
3. Gunakan media pembelajaran
E. Implementasi Strategi Pembelajaran
Ada 4 kriteria utama untuk meniali suatu strategi pembelajaran :
1. Tingkat relevansi
2. Tingkat efektivitas
3. Tingkat efisiensi
4. tngkat partisipasi/keterlibatan siswa
Pada tingkat relevansidapat dikembangkan menjadi 3 dimensi rekreasi yaitu :
a. relevansi epistimologi
b. relevansi psikologi
c. relevansi social


BAB 5
STRATEGI PEMBELAJARAN BERORIENTASI AKTIVITAS SISWA
A. Konsep Strategi Pembelajaran Berorientasi Ativitas Siswa
Pembelajaran berorientasi aktivitas siswa (PBAS) adalah sebagai salah satu bentuk inovasi dalam memperbaiki kualitas proses belajar mengajar yang memiliki tujuan untuk membantu siswa agar dapat belajar secara mandiri dan kreatif, sehingga ia memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat menunjang terbentuknhya kepribadian yang mandiri. PBAS memfokuskan kepada aktivitas siswa secara optimal yaitu aktivitas fisik, mental termasuk emosional dan aktivitas intelektual. Sebab semua aktivitas siswa baik yang berupa fisik maupun psikis harus seimbang.
B. Pengaruh Guru Dalam Implementasi PBAS
Dalam penerapakan PBAS mendukung guru tidak berperan sebagai satu-satunya sumber belajar uang bertugas menuangkan materi pelajaran kepada siswa, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana memfasilitasi siswa belajar dengan baik. Penerapan PBAS menuntut guru untuk kreatif dan inovatis sehingga mampu menyesuaikan belajar siswa.
C. Implementasi PBAS Didalam Proses Pembelajaran
Pembelajaran berbasis aktivitas siswa diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan, seperti mendengarkan, berdiskusi, memproduksi sesuatu, menyusun laporan, memecahkan masalah dan lain sebagainya. Keaktifan siswa ada yang secara langsung dapat diamati, seperti mengerjakan tugas, berdiskusi, mengumpulkan data dan lain sebagainya. Akan tetapi ada juga yang tidak bisa diamati seperti kegiatan mendengarkan dan menyimak.
3 Aspek Yang Mempengaruhi Keberhasilan PBAS
Dalam proses pembelajaran keberhasilan implementasi PBAS dapat dipengaruhi oleh beberapa aspek diantaranya :
a. Peran guru
Guru merupakan pioner yang sangat
menentukan keberhasilan penerapan PBAS, beberapa hal yang dapat mempengaruhi keberhasilan PBAS dipandang dari aspek peran guru yaitu kemampuan guru, sikap profesionalitas guru, latar belakang pendidikan guru, dan pengalaman mengajar guru.
b. Sarana belajar
Keberhasilan penerapan PBAS dapat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana belajar. Ketersediaan sarana ini meliputi ruang kelas dan setting tempat duduk siswa, media dan sumber belajar
c. Lingkungan belajar
Ada 2 hal yang termasuk kedalam faktor lingkungan belajar, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan psikologis.


BAB 6
STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
A. Konsep Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah
Strategi pembelajaran berbasis masalah adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Dalam penerapannya SPMB memiliki khusus yaitu SPMB tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mengedengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui SPBM siswa aktif berfikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.
B. Langkah-langkah strategi pembelajaran berbasis masalah
Enam langkap SOBM yang kemudian terkenal dengan sebutan metode pemecahan masalah (problem solving), John Dewey yaitu :
1. Merumuskan masalah
2. Menganalisis masalah
3. Merumuskan hipotesis
4. Mengumpulkan data
5. Pengujian hipotesis
6. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah
C. Kekuatan Dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Berbasis Sekolah
1. Kekuatan SPMB
SPBM memiliki beberapa kekuatan, diantaranaya:
a. Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan peran serta siswa dalam pembelajaran.
b. Pemecahan masalah (problem solving) dapat merangsang kemampuan siswa untuk menemukan pengetahuan baru.
c. Pemecahan masalah (Problem Solving) dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam kehidupan sehari-hari.
d. Pemecahan masalah (Problem Solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka unutk beradaptasi dengan lingkungan baru.
e. Pemecahan masalah (problem solving) dapat menumbuhkan semangat belajar karena didalamnya terdapat belajar menyenangkan dan disukai siswa.
2. Kelemahan SPBM
Kelemahan SPBM diantaranya adalah:
a. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu persiapan dan pelaksanaannya.
b. Ketika siswa dalam keadaan tidak memiliki minat atau tidak percaya diri bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa terbebani untuk mencoba memecahkan masalanya.
c. Ketika siswa tidak memiliki kesadaran harus memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan termotivasi untuk mempelajari apa yang mereka ingin pelajari.



BAB 7
STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI

A. Konsep Strategi Pemebelajaran Inkuiri
Strategi pembelajaran inkuiri adalah sekumpulan rangkaian aktivitas dari kegiatan pembelajaran yang memfokuskan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Strategi ini juga sering dinamakan strategi Heuristic.
Tujuan utama pembelajaran melalui strategi Inkuiri adalah menolong siswa untuk dapat mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan berpikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka.
B. Langkah-Langakh Strategi Pembelajaran Inkuiri
Langkah-langakh strategi pembelajaran inkuiri:
1. Orientasi
Yaitu langkah pertama didalam strategi pembelajaran inkuri, tujuannya adalah untuk membuat suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif dan responsif.
2. Merumuskan masalah
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah, diantaranya adalah:
Masalah baiknya dirumuskan sendiri oleh siswa.
Masalah yang dibahas adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti.
Konsep yang terdapat dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa
3. Merumukan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji, sebagai jawaban sementara. Hipotesis perlu diuji kebenarannya.
4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis.
5. Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis merupakan proses penentuan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperolehkan berdasarkan pengumpulan data.
6. Merumuskan Kesimpulan
Merupakan proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.
C. Kekuatan Dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Inkuiri
1. Kekuatan Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi Pembelajaran Inkuiri memiliki beberapa kekuatan diantaranya adalah:
a. Strategi Pembelajaran Inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang memfokuskan kepada pengembangan ranah kognitif, efektif dan psikomotor secara seimbang.
b. Strategi Pembelajaran Inkuiri dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
c. Strategi Pembelajaran Inkuiri merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern.
d. Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata.
2. Kelemahan Strategi Pembelajaran Inkuiri
Disamping memiliki kekuatan, Strategi Pembelajaran Inkuiri juga mempunyai kelemahan, diantaranya adalah:
a. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran.
b. Kadang-kadang dalam penerapannya, memerlukan waktu yang panjang.
c. Strategi Pembelajaran Inkuiri akan sulit diterapkan oleh guru, selama kriteria keberhasilan belajar yang ditentukan oleh kemampuan siswa.



BAB 8
STRATEGI PEMBELAJARAN PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR

A. Konsep Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB)
Strategi pembelajaran peningkatan kemapuan berpikir (SPPKB) adalah strategi pembelajaran yang memfokuskan kepada pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui analisis fakta-fakta atau pengalaman anak sebagai bahan untuk memecahkan masalah yang diajukan.
1. Latar belakang Filosofi dan Psikologis SPPKB
a. Latar belakang filosofis
Hakikat pengetahuan menurut filsafat konstruktivisme adalah sebagai berikut:
Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep dan struktur yang perlu untuk pengetahuan
Pengetahuan dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi memebentuk pengetahuan apabila konsepsi itu berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang (Suparno-1992:27)
Pengetahuan bukanlah merupakan gambarang dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui subyek.
b. Latar  belakang psikologis
Landakan psikologis SPPKB adalah aliran psikologi kognitif. Menurut aliran kognitif, balajar pada hakiktnya merupakan peristiwa mental bukan peristiwa behavioral.
Brower dan Hilgard (1988:421) mengemukana bahwa teori kognitif berkenaan dengan bagaimana seseorang memperoleh pengetahuan dan mereka menggunakan pengetahuan tersebut untuk lebih efektif.  
B. Ciri Khas  Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Belajar
SPPKB memeiliki tiga ciri khas utama, yaitu sebagai berikut:
1. SPPKB dibangun dalam iklim dialogis dan proses tanya jawab secara kontinu.
2. SPPKB memfokuskan kepada proses mental siswa secara utuh. SPPKB bukan strategi pembelajaran yang hanya menuntut siswa sekedar mendengar dan mencatat, akan tetapi menghendaki aktivitas siswa dalam proses berpikir.
3. SPPKB adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada dua sisi yang sama pentingnya, yaitu sisi proses dan hasil belajar.
C. Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir
Secara  umum langkah proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Langkah Orientasi
Guru mengkondisikan siswa agar siap untuk melaksanakan pembelajaran dan penjelasan mengenai proses pembelajaran yang harus dilakukan siswa
2. Langkah Pelacakan
Langkah pelacakan disebut juga langkah penjajakan untuk memahami pangalaman dan kemampuan dasar siswa sesuai dengan tema atau pokok persoalan yang akan dibahas.
3. Langkah Konfrontasi
Langkah konfrontasi merupakan langkah penyajian persoalan yang harus dipecahkan sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa.
4. Langkah Inkuiri
Pada langkah ini guru harus memberikan ruang dan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide dan gagasan dalam upaya memecahkan persoalan agar siswa belajar berpikir yang sesungguhnya.
5. Langkah Akomodasi
Langkah akomodasi disebut juga langkah pembentukan pengetahuan baru melalui proses penyimpulan. Pada langkah ini siswa dituntut untuk dapat menemukana kata0kata kunci sesuai dengan topik atau tema pembelajaran.
6. Langkah Transfer
Langkah transfer adalah langkah penyajian masalah baru yang sepadan dengan masalah yang disajikan, yang dimaksudkan sebagai langkah agar siswa mampu mentransfer kemampuan berpikir setiap siswa untuk memecahkan masalah-masalah baru.


BAB 9
STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF

A. Konsep Strategi Pembelajaran Kooperatif
Strategi pembelajaran kooperatif adalah proses rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Ada empat aspek penting dalam strategi pembelajaran kooperatif yaitu:
1. Adanya peserta dalam kelompok
2. Adanya aturan kelompok
3. Adanya upaya belajar setiap anggota kelompok
4. Adanya tujuan yang harus dicapai
Strategi pembelajaran  kooperatif mempunyai dua komponen utama, yaitu komponen tugas kooperatif (cooperative task) dan komponen struktur insentif kooperatif (cooperative incentive structure).
B. Ciri Khas Strategi Pembelajaran Kooperatif
Ciri khas strategi pembelajaran kooperatif dapa dijelaskan sebagai berikut:
1. Pembelajaran Secara Tim
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara tim.  Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Semua anggota tim (anggota  kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itulah, kriteria keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh keberhasilan tim.
2. Didasarkan Pada Manajemen Kooperatif
Manajemen memiliki empat fungsi pokok, yaitu fungsi perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, dan fungsi kontrol. Demikian juga dalam pembelajaran kooperatif. Fungsi perencanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang  matang agar proses pembelajaran berjalan secara efektif, misalnya tujuan apa yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, apa yang harus digunakan untuk mencapai tujuan itu dan lain sebagainya.
3. Kemauan Untuk Bekerja Sama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh karena itu, prinsip bekerja sama perlu ditekankan dalam proses pembelajaran kooperatif.  
4. Keterampilan Bekerja Sama
Siswa perlu didorong untuk sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain. Siswa  perlu dibantu mengatasi hambatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga setiap siswa dapat menyampaikan ide, mengemukakan pendapat, dan memberikan kontribusi kepada keberhasilan kelompoknya.
C. Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran Kooperatif
Secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajalan kooperatif dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Penjelasan Materi
Langkah penjelasan adalah sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama dalam langkah ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran.
2. Belajar dalam Kelompok
Setelah guru menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok meteri pelajaran, selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya.
3. Penilaian
Cara penilaian dalam SPK bisa dilakukan dengan tes atau kuis. Tes atau kuis dilakukan baik secara individu maupun secara kelompok. Tes individual nantinya akan memberikan informasi kemampuan setiap siswa dan tes kelompok akan memberikan informasi kemampuan setiap kelompok.
4. Pengakuan Tim
Pengakuan tim (team recognition) adalah penerapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah.
D. Kekuatan Dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Kooperatif
1. Kekuatan SPK
Kekuatan pembelajaran kooperatif sebagai suatu strategi pembelajaran di antaranya adalah:
a. SPK dapat membantu anak untuk peduli pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan
b. SPK merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial.
c. Melalui SPK siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri.
d. SPK dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan secara verbal.
e. SPK dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
f. Melalui SPK dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik.
g. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir.
h. SPK dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak.  
2. Kelemahan SPK
Disamping kekuatan, SPK juga memiliki kelemahan diantaranya adalah:
a. Ciri khas utama dari SPK adalah bahwa siswa saling membelajarkan.
b. Untuk memahami dan mengerti filosofis SPK memang butuh waktu yang lama. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami filsafat cooperative learning.
c. Penilaian yang diberikan dalam SPK didasarkan kepada hasil kerja kelompok.
d. Keberhasilan SPK dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang.
e. Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual.



BAB 10
STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI
A. Konsep Strategi Pembelajaran Ekspositori
Strategi pembelajaran ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher center approach). Dikatakan demikian, sebab dalam strategi ini guru memegang peran yang sangat dominan. Melalui stratgei ini, guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan dapat dikuasai siswa dengan baik.
Strategi pembelajaran ekspositori akan berjalan efektif manakala:
Apabila guru meningkatkan siswa mempunyai gaya model intelektual tertentu, misalnya agar siswa bisa mengingat bahan pelajaran.
Guru akan menyampaikan bahan-bahan baru serta kaitannya dengan yang akan dan harus dipelajari siswa (overview).
Membangkitkan keingintahuan siswa dengan topik tertentu.
Jika bahan pelajaran yang akan dipelajari, cocok untuk dipresentasikan, artinya dipandang dari sifat dan jenis materi pelajaran memang materi pelajaran itu hanya mungkin dapat dipahami oleh siswa manakala disampaikan oleh guru.
Guru menginginkan untuk mendemontrasikan suatu teknik atau prosedur tertentu untuk kegiatan praktik.
 B. Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran Ekspositori
1. Rumuskan Tujuan yang Ingin Dicapai
Merumuskan tujuan merupakan langkah pertama yang harus dipersiapkan guru. Tujuan yang ingin dicapai sebaiknya dirumuskan dalam bentuk perubahan tingkah laku yang spesifik yang berorientasi kepada hasil belajar.
2. Kuasai Materi Pelajaran dengan Baik
Penguasaan materi pelajaran dengan baik merupakan syarat mutlak penggunaan strategi ekspositori.
3. Kenali Medan dan Berbagai Hal yang Dapat Mempengaruhi Proses Penyampaian
Mengenali lapangan atau medan merupakan hal penting dalam langkah persiapan. Pengenalan medan yang baik memungkinkan guru dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu proses penyajian materi pelajaran.
Langkah-langkah Strategi pembelajaran Ekspositori:
1. Persiapan (Preparation)
Langkah persiapan berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran.
2. Penyajian (Presentation)
Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan.
3. Korelasi (Correlation)
Langkah korelasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang telah dimiliki.
4. Menyimpulkan (Generalization)
Menyimpulkan adalah langkahan untuk memahami inti (core) dari materi pelajaran yang telah disajikan.
5. Mengaplikasikan (Application)
Langkah aplikasi adalah langkah untuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru.
C. Kekuatan Dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Ekspositori
1. Kekuatan SPE
Strategi pembelajaran ekspositori merupakan strategi pembelajaran yang banyak dan sering digunakan. Hal ini disebabkan strategi ini memiliki beberapa kekuatan, diantaranya adalah:
a. Dengan SPE guru bisa mengontrol urutan dan keluasan metari pembelajaran.
b. SPE dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas.
c. Melalui SPE pembelajaran ekspositori selain siswa dapat mendengar melalui penuturan (kuliah) tentang suatu mater pelajaran.
d. Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.
2. Kelemahan SPE
Disamping memiliki kekuatan, strategi ekpositori juga memiliki kelemahan, diantaranya adalah:
a. Karena strategi ini lebih banyak diberikan oleh ceramah, maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi.
b. Stratgei ini tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu.
c. Strategi ini hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik.
d. Keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori sangat tergantung terhadap kemapuan  yang dimiliki guru.
e. Komunikasi strategi pembelajaran lebih banyak terjadi satu arah.




BAB 11
STRATGEI PEMBELAJARAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
A. Konsep Strategi Pembelajaran CTL
Contextual Teaching And Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang memfokuskan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
CTL menfokuskan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung.
B. Latar Belakang Filosofis Dan Psikologis CTL
1. Latar Belakang Filosofis
Strategi pembelajaran CTL banyak dipengaruhi oelh filsafat konstruktuvisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget.
Piaget berpendapat, bahwa sejak kecil setiap anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan “skema”. Skema terbentuk karena pengalaman. Semakin dewasa anak, maka semakin sempurnalah skema yang dimilinya.
2. Latar belakang Psikologis
Sesuai dengan filsafat yang mendasarinya bahwa pengetahuan terbentuk karena peran aktif subyek, maka di pandang dari sudut psikologis, CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif.
C. Azas-Azas Strategi Pembelajaran CTL
CLT sebagai suatu pendekatan pembelajaran memeiliki tujuh azas, diantaranya:
1. Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baik dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.
2. Inkuiri
Inkuiri adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis.
3. Bertanya (Questioning)
Dalam proses pembelajaran ,bertanya merupakan indikator yang sangat penting, sedangkan menjawab mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir.
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajar (learning community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama kepada orang lain.
5. Pemodelan (Modeking)
Prinspin modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa.
6. Refleksi (reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya.
7. Penilaian Nyata (Authentic assessment)
Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa.
D. Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran CTL
1. Pola Pembelajaran Konvensional
Strategi pembelajaran sebagai berikut:
a. Siswa disuruh untuk membaca buku tentang pasar.
b. Guru menyampaikan materi pelajaran dengan pokok-pokok materi pelajaran seperti yang terkandung dalam indikar hasil belajar.
c. Guru memberi kesempatan untuk siswa bertanya.
d. Guru mengular pokok-pokok materi pelajaran.
e. Guru melakukan post-test evaluasi.
2. Pola Pembelajaran CTL
a. Pendahuluan
1) Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari
2) Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL
b. Kegiatan Inti
1) Dilapangan
Siswa melakukan observasi ke pasar sesaui dengan pembagian tugas kelompok
Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan di pasar sesuai dengan alat observasi yang telah mereka temukan sebelumnya.
2) Di dalam kelas
Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka
Siswa melaporkan hasil diskusi
Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan
c. Penutup
1) Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi
2) Guru menugaskan siswa untuk membuat karangan tentang pengalaman belajar mereka dengan tema pasar.



BAB 12
MEDIA DAN SUMBER BELAJAR
A. Pengertian Media Pembelajaran
Media merupakan kata jamak dari medium, yang berarti perantara atau pengantar. Kata media berlaku untuk berbagai kegiatan atau usaha, seperti media dalam penyampaian pesa, media pengantar magnet atau panas dalam bidang teknik. Ada beberapa definisi media pendidikan atau media pembelajaran. Rossi dan Breidle (1966:3) menjelaskan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah dan sebagainya.
1. Kedudukan Media Pembelajaran
Mengajar adalah sebagai usaha yang dilakukan guru agar siswa belajar. Sedangkan, yang dimaksud dengan belajar adalah proses perubahan tingkah laku dari negatif ke arah positif melalui pengalaman. Pengalaman itu dapat berupa pengalaman langsung dan pengalaman tak langsung. Pengalaman langsung adalah pengalaman yang diperoleh melalui aktivitas sendiri pada situasi yang sebenarnya.
Selanjutnya uraian setiap pengalaman belajar seperti digambarkan dalam kerucut pengalaman tersebut dapar dijelaskan berikut ini:
a. Pengalaman melalui lambang verbal, merupakan pengalaman yang sifatnya lebih abstrak.
b. Pengalaman melalui lambang-lambang visual seperti grafik, gambar dan bagan.
c. Pengalaman melalui radio, tape recorder dan gambar.
d. Pengalaman melalui gambar hidup dan film
e. Pengalaman melalui pameran
f. Pengalaman wisata
g. Pengalaman melalui demostrasi
h. Pengalaman melalui drama
i. Pengalaman buatan adalah pengalaman yang diperoleh melalui benda atau kejadian yang dimanipulasi agar mendekati kejadian yang sebenarnya.
j. Pengalaman langsung merupakan pengalaman yang diperoleh siswa sebagai hasil dari aktivitas sendiri.
2. Kegunaan Media Pembelajaran
Edgar Dale menjelaskan bahwa pengetahuan akan semakin abstrak apabila hanya disampaikan melalui bahasa verbal. Hal ini memungkinkan terjadinya verbalisme, artinya siswa hanya mengetahui tentang kata tanpa memahami dan mengerti makna yang terkandung dalam kata tersebut.
3. Jenis-jenis Media Pembelajaran
Media pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi beberapa klasifikasi tergantung drai sudut mana melihatnya:
a. Dilihat dari sifatnya, media dapat dibagi kedalam
1) Media audiovisual, adalah jenis media yang mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar.
2) Media visual, adalah media yang hanya dapat dilihat saja, tidak mangendung unsur suara.
3) Media auditif, adalah media yang dapat didengar saja, atau media yang hanya memiliki unsur suara.
b. Dilihat dari kemampuan jangkauannya, media dapat pula dibagi kedalam
1) Media yang mempunyai daya liput terbatas oleh ruang dan waktu seperti film slide, video.
2) Media yang memiliki daya liput luas dan serentak seperti radio dan televisi.
c. Dilihat dari cara atau teknik pemakaiannya, media dapat dibagi ke dalam:
1) Media yang tidak diproyeksikan seperti gambar, foto, lukisan.
2) Media yang diproyeksikan seperti film, slide, film strip, transparansi.
4. Asas-asas Penggunaan Media
Asas dalam penggunaan media pada setiap kegiatan belajar mengajar adalah bahwa media digunakan dan diarahkan untuk mempermudah siswa belajar dalam upaya memahami materi pelajaran.Agar media pembelajaran benar-benar digunakan untuk membelajarkan siswa, maka ada sejumlah asas yang harus diperhatikan, diantaranya:
a. Media yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoperasikannya.
b. Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
c. Media yang akan digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran.
d. Media pembelajaran harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kondisi siswa.
e. Media yang akan digunakan harus memerhatikan efektifitas dan efisien.
B. Pengertian Sumber Belajar
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk mempelajari bahan dan pengalaman belajar sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Dalam proses penyusunan perencanaan program pembelajaran, guru perlu menetapkan sumber apa yang dapat digunakan oleh siswa agar mereka dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Beberapa sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh guru khususnya dalam perencanaan proses pembelajaran di dalam kelas diantaranya adalah:
1. Manusia Sebagai Sumber
Manusia merupakan sumber utaman dalam proses pembelajaran. Dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran, guru dapat memanfaatkannya dalam perencanaan proses belajar mengajar.
2. Alat dan Bahan Pengajaran
Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk membantu guru, sedangkan bahan pengajaran adalah segala sesuatu yang mengandung pesan yang akan disampaikan kepada siswa.
3. Berbagai Aktivitas dan Kegiatan
Aktivitas adalah segala perbuatan yang sengaja dirancang oleh guru untuk menfasilitasi kegiatan belajar siswa seperti kegiatan diskusi, demonstrasi, simulasi, melakukan percobaan, dan lain sebagainya.
4. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang dapat memungkinkan siswa belajar. Misalnya, gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, taman, kantin sekolah dan lain sebagainya.

KESIMPULAN

Pentingnya Sistem dan Strategi Belajar Mengajar itu untuk membangun, mendidik dan menciptakan anak didik yang memiliki potensi dan pola pikir yang baik dan positif. Sebab bukan hal yang mudah untuk menjadi seorang guru yang profesional dan menjalankan tugas pangilanya untuk memberikan apa yang telah diketahui kepada siswa/i di kelas. Tanggung jawab dalam melayani siswa/i adalah besar dan itu yang menentukan arah pendidikan suatu bangsa. Bukan hanya kecerdasan intelektual saja yang dibutuhkan melainkan harus pandai dalam menyampaikan kepada peserta didik dengan metode-metode, teknik-teknik dan strategi yang bijaksana agar proses belajar mengajar itu tidak monoton dan menyenakan bagi siswa/i serta mudah dicerna dan dipahami.

KOMENTAR DAN SARAN

Buku ini menarik karena bisa membantu kami para mahasiswa memahami mengenai detail strategi pembelajaran. Bahasa yang dipergunakanpun dapat dimengerti dan dipahami, terkadang istilah-istilah yang asing juga tidak terlalu menyulitkan karena sudah ada bahasa Indonesia yang mudah dimengerti. Namun ada beberapa point pembahasan yang terlihat berulang. Secara keseluruhan buku sudah layak menjadi bahan acuan dari mahasiswa untuk belajar.